Rabu, 11 Januari 2012

Membangun Open BTS Oleh Masyarakat


Masyarakat dimungkinkan untuk membangun perangkat Open BTS sendiri sebagai sarana untuk komunikasi telepon dan SMS. Namun terdapat beberapa syarat yang harus terpenuhi. Apa saja?

Pertama adalah masyarakat di daerah itu belum terjangkau sinyal operator telekomunikasi. Menurut Onno W Purbo, karena operator tidak mau membangun infrastrutur telekomunikasi yang dinilai sebagai hak asasi manusia, maka masyarakat di daerah tersebut dimungkinkan membuat Open BTS sendiri.

Onno menyatakan, ada peraturan di Kepmen Nomor 21 tahun 2001 yang memungkinkan masyarakat mendirikan Open BTS sendiri. Masyarakat bisa mengajukan izin menjadi penyelenggara jasa telekomunikasi dasar kepada Kementerian Kominfo.

Sejatinya, pihak operator pun bisa memakai solusi Open BTS untuk masyarakat di pedalaman yang belum mendapat akses telekomunikasi. Namun jika mereka tidak mau membangunnya dengan berbagai alasan, masyarakat bisa berinisiatif sendiri.

"Untuk operator telekomunikasi di Indonesia, mereka sudah punya izin dari menteri. Urusan memilih alat adalah urusan mereka, jadi operator sebenarnya punya hak memakai teknologi ini. Kalau operator ndableg, sudah tahu ada teknologi murah tetep tidak mau tahu, hak masyarakat untuk berkomunikasi jadi terabaikan oleh operator," tegas Onno.

"Kalau operator tidak mau tapi rakyatnya mampu beli, jalurnya sudah ada, rakyat harus mengajukan izin penyelenggara jasa teleponi dasar ke Kominfo, itu ada di keputusan menteri nomor 21 tahun 2001," tambah penggiat open source ini.

Open BTS memang tidak bisa sembarangan dipakai, misalnya di area perkotaan yang sudah banyak dilayani oleh operator telekomunikasi. Sebab bisa mengacaukan jaringan operator.

"Solusi seperti ini menarik untuk daerah-daerah yang belum ada sinyalnya," tambah Onno.

Biayanya pun cukup terjangkau. Untuk menjangkau area sekitar 5 kilometer, biaya Open BTS diestimasi sekitar Rp 150 juta. Soal kualitas dinyatakan sama saja dengan miliki operator.

"Kalau yang dipakai operator agak beda karena dia lebih banyak hardware, kalau kita kan hardwarenya kita ganti software jadi murah semua. Nah, BTS yang dipakai operator harganya sekitar Rp 1,5 miliar, itu yang jelek kalau yang bagusnya sekitar Rp 3 miliar. Jadi bayangkan harganya sepersepuluh-seperduapuluh, kualitasnya sama saja telepon dan SMS," pungkas Onno.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Web Hosting | Top Hosting